www.mamboteam.com
YAYASAN ISTIQAMAH jl.taman citarum Bandung
Home
Wednesday, 08 September 2010
 
 
selamat datang

selamat datang di website YAYASAN MASJID ISTIQAMAH,

jalan taman citarum Bandung 40115.

media komunikasi dan informasi rangkaian garapan dan kegiatan

MASJID ISTIQAMAH. 

Ceramah Tarawih
Jadwal Peceramah Malam ramadhan 1431H jam 19.00
31-08 Drs.H.Abdul Muhaimin - I'tikaf yang sesuai syariah.
01-09 Drs.Muchtarom MAg - Meraih khusnul Khotimah.
02-09 Ir.H.Bambang Pranggono MBA - Memetik pelajaran dari Abad Kejayaan Islam.
03-09 Drs.H.Iman Hidayat MPdI - Ramadlan bln muraqabah, muhassabah, mujahadah.
04-09 H.Hasyim Asy'ari - Fiqih Zakat Fitrah.
05-09 H.Taufiq Ismail Lc - Menjemput Lailatul Qadar.
06-09 H.Iwan Kartiwan Lc - Hidup Berjam'iyah suatu keharusan dlm Islam.
07-09 Dr.H.Asep Zaenal Aushof MAg - Zakat dan Pembangunan ekonomi Umat.
08-09 Drs.H.Syamsul Bachri Day SH MH - Hakikat Iedul Fitri.
Khutbah Jumat & Kuliah Dhuha

===================================

Khutbah Jumat, 3 Sepetember 2010

KH.Ikin Sodikin

Mencari Hidayah Allah
====================================

Kuliah Dhuha,  5 September  2010, Jam : 7.30

Dr.H.Asep Zaenal Aushof MAg.

Menyikapi Perbedaan Makna Alqur'an dan Sunnah



====================================
PDF Print E-mail

MASJID PERINTIS ISTIQAMAH CIHAPIT (1926 - 1987)

 Kehadiran Masjid di Bandung Utara sekarang ini, sebagai suatu peristiwa yang wajar. Bahkan telah dibangun pula Islamic Centre di Bandung Utara. Tidaklah demikian halnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Apalagi tahun 1926 saat hubungan antara pemerintah kolonial Belanda dengan ummat Islam sedang terjadi ketegangan tuntutan politik.

Sejak tahun 1926 ummat Islam di Bandung sedang meningkatkan aktivitas gerakan kebangsaannya. Saat itu, Kongres Nasional Centraal Sarekat Islam menjadikan kota Bandung sebagai tempat pencetus tuntutan Zelf Bestuur -Self Goverment atau Pemerintah Sendiri. Ketegangan politik semakin meningkat di Jawa Barat. Pada 1919 di Garut terjadi Peristiwa Haji Hassan, di susul dengan Peristiwa Nopember 1926, ummat Islam dipimpin KH.Nawawi melancarkan perlawanan bersenjata di Banten.

Di tengah ketegangan politik nasional seperti di atas, seorang Kopral KNIL, Ronodikromo, mendapatkan hidayah Allah, sekembalinya dari Aceh, mempunyai inisiatif membangun tempat ibadah, Masjid. Tempat yang dipilih di wilayah Bandung Utara, Jalan Cihapit, yang sangat berdekatan dengan kompleks militer Belanda.

Tindakan ini sebagai amal shalih yang disertai keberanian yang luar biasa. Bandung Utara sebagai wilayah yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda, sebagai wilayah Kristen. Mulai dari Jalan Asia Afrika ke utara hanya dihuni non pribumi: Belanda dan Timur Asing yakni Cina di Pecinan Lama, dan Arab di wilayah Alkateri.

Di wilayah Bandung Utara sebagai daerah bebas masjid. Kecuali Prof.Dr.Cemal Schoemaker, sebagai planolog kota Bandung, setelah mendapat hidayah masuk Islam, diizinkan oleh pemerintah kolonial Belanda mendirikan masjid di Jalan Cipaganti. Kalau Kopral Ronodikromo berani membangun masjid di kompleks militer Belanda di Cihapit, perlu diadakan penelitian yang lebih jauh. apakah Ronodikromo sebagai militer Belanda, kemudian diizinkan untuk membangun masjid. Dalam upaya pembangunan masjid ini, Haji Anang Thayib, sebagai salah seorang donaturnya. Awal berdirinya masjid ini, dengan bahan sederhana dan belum memiliki nama, kecuali dikenal sebagai Masjid Cihapit.

Sebagaimana umumnya masjid masa itu, tidak memiliki Staf Pengurus atau Dewan Keluarga Masjid, maka program-program kegiatannya pun menjadi sangat sederhana yakni sebagai tempat shalat.

Proses pengelolaan Masjid Cihapit di bawah Ronodikromo berlangsung hingga beliau terpanggil oleh Allah pada 1948. Inna lillahi wa innaa ilahi raajiuun. Selama 12 tahun Ronodikromo berhasil mempertahankan eksistensi Masjid Cihapit dalam pertumbuhan awalnya di wilayah Bandung Utara yang tidak diperkenankan untuk dibangun masjid. Sekali lagi perlu dikenang jasa dan keberanian Ronodikromo sebagai perintis dan pembangun Masjid Cihapit di tengah komplek militer KNIL. Dapatlah dibayangkan nasib Masjid Cihapit bila dibangun oleh orang sipil, tidak akan berumur panjang.

Perlindungan Allah atas Masjid Cihapit ternyata masih berlanjut. Wafatnya Ronodikromo terjadi pada masa Agresi Militer Belanda II (1948). Walaupun Ronodikromo  sudah wafat, namun masjid masih dapat berfungsi terus. Hal ini disebabkan Sukatma mendapat amanah untuk meneruskan pemeliharaan Masjid Cihapit. Selain itu juga istri Ronodikromo , Sumirah, juga masih tinggal di dekat masjid. Putranya, M.Oerip Kasansengari, saat itu tinggal di Surabaya. Oleh karena itu, pengelolaan masjid ditangani oleh Sukatma, berlangsung hingga 1960.

LAHIRNYA MASJID ISTIQAMAH CIHAPIT

Usaha pembangunan fisik masjid untuk pertama kali sesudah Ronodikromo wafat (1948), baru diadakan pada tahun 1960. Berproses pula dalam waktu 12 tahun sesudah wafatnya. Penanganan pembangunan fisik tersebut dilaksanakan oleh menantu Sukatma:  Witarmudi, Hamdan dan Mahmudin. Sejalan dengan perkembangan zaman, maka diadakan upaya untuk mendapat dukungan dari masyarakat. Namun usahanya terhenti, tidak dapat mewujudkan pembangunan yang diharapkan.

Proses waktu memberikan kesempatan kepada Hadji Oemar Mansoer, sebagai seorang pengusaha swasta di bidang penerbitan majalah hiburan, tertarik untuk ikut serta dalam pembangunan. Dari sinilah mulainya dibentuk Jajasan Kemakmuran Masjid, pada tanggal 20 Februari 1961 dengan Akte Notaris Nuzar, No.241. Adapun pendiri pertama Jajasan Kemakmuran Masjid adalah: H.Oemar Mansoer, H.Qamaruddin Shaleh,  E.Suwitaatmadja, Lts.Ud.Zaenal Abidin, Chandi Hamzah, Abdul Djunaedi Kudus, Habib Usman Alaydrus dan Mohammad Fadil Dasuki.

Kegiatan da'wah ummat Islam mulai bangkit kembali. Akibat kondisi politik Demokrasi Terpimpin saat itu
menjadikan Parpol Masjumi tidak berhak lagi untuk berbicara politik (1961). Kondisi inilah mendorong dari
pimpinan Islam kembali ke tengah  ummat untuk berda'wah dengan mendekati masjid yang selama ini tertinggal dari penggarapan 'ulamanya. Kegiatan politiknya di Konstituante dan di lembaga kenegaraan, kepartaian serta menjadikan waktunya tersita untuk politik semata. Situasi inilah menjadikan KH. Mohammad Isa Anshari berkesempatan pula menyumbangkan sebuah nama untuk Masjid Cihapit menjadi Masjid Istiqamah Cihapit.

Tetapi kelanjutannya tidak dapat menanganinya, akibat tokoh politik Masjumi itu harus tafakkur selama lima tahun di Rumah Tahanan Militer di Madiun. Baru menikmati udara kemerdekaan setelah Orde Baru dengan hancurnya PKI, maka Dr.Mohammad Natsir, KH.E.Z.Muttaqin, KH.Mohammad Isa Anshari, dan lain-lain dapat dibebaskan.

Dengan hancurnya komunis sebagai penabur ideologi atheis, rahmat Allah terlimpah kepada bangsa Indonesia. Di bawah pemerintahan Orde Baru, pembangunan sarana keagamaan menjadi bagian dari pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan yang mementingkan keseimbangan material dan spiritual, dunia dan akhirat, menjadikan pembangunan masjid mendapatkan iklim yang subur.

Untuk menyambut pembangunan agama, tidak hanya mementingkan pembangunan fisik semata. Tetapi juga lebih utama persona pengelolanya. Bagaimanapun megahnya fisik masjid akan menjadi monumen mati, bila aktivitasnya menunjukkan kegiatan yang sebaliknya. Agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembinaan sumber daya muslim, maka dibentuklah Dewan Keluarga Masjid (DKM) Istiqamah Cihapit untuk periode 1965 - 1967 sbb:

Ketua I                        : Mayor Udara Zaenal Abidin
Ketua II                       : Mohammad Kasim
Ketua III                      : Mayor Infanteri T.Ma'mur
Sekretaris I                : R.Haroen Danamihardja
Sekretaris II               : Ponidjan RS
Bendahara I              : Oemar Mansoer
Bendahara II             : R. Arief
Bidang Pendidikan  : Abdul Manan, Zainuddin Sulaiman, Drs.Bustami Lubis, dan Moeksin Mansoer
Perawatan Masjid    : Sukatma, Hamdan, Watarmedi, dan Machmudin

Di bawah kondisi yang demikian ini, Yayasan Istiqamah mendapatkan kesempatan yang luas untuk mengembangkan pembangunan fisik masjid. Usaha ini ternyata berhasil membangun dua masjid: Masjid Istiqamah Cihapit dan Masjid stiqamah Taman Citarum. Proses pembangunan fisik Masjid Istiqamah Cihapit diikuti pula dengan pembangunan sistem da'wahnya. Bersamaan engan berkembangnya Masjid Persatuan Islam (Persis) di Jalan Pajagalan Bandung, maka Masjid Istiqamah Cihapit juga mengadakan pembaharuan sistem khutbah Jum'atnya.

Selama ini sistem khutbah Jum'at selalu dengan bahasa Arab tanpa terjemahan. Khutbah yang demikian  ini kurang komunikatif, kurang dipahami oleh jama'ah. Masjid Istiqamah merintis mengembangkan khutbah Jum'at disertai dengan terjemahan bahasa Daerah atau bahasa Indonesia.

Khutbah yang disertai bahasa Indonesia sebagai terjemahannya juga dilaksanakan oleh masjid-masjid yang sezaman dengan Masjid Istiqamah Cihapit antara lain: Masjid Salman ITB Jalan Ganesha, Masjid Universitas Padjadjaran Jalan Adipati Ukur 35, Masjid Al-Jihad ATPU Jalan Garut, serta Masjid Libasut Taqwa STTT Jalan Ahmad Yani.

RENOVASI FISIK MASJID ISTIQAMAH CIHAPIT

kehidupan da'wah agama ISlam di Bandung Utara yang subur akibat ikut serta kalangan intelektual muslim pada lembaga pendidikan tinggi di atas, memberikan pangaruh yang besar terhadap kehidupan kemasjidan di sekitarnya. Masjid Istiqamah Cihapit dituntut untuk dapat meneruskan pembangunan fisiknya, sesuai dengan semakin  semaraknya pembangunan fisik di sekitarnya. Di bawah Dewan Keluarga Masjid periode 1967 - 1981 (14 tahun) yang dipimpin oleh: Letnan Kolonel H.T.Makmur, merencanakan mengadakan renovasi fisik masjid.

Pembaharuan fisik masjid dengan semakin bertambahnya populasi anak didik di sekitar masjid, dan perkembangan pembaharuan sistem informasi, menuntut kerja keras para pengurus atau DKM. Untuk itu semuanya, diadakan pembaharuan Pengurus DKM periode 1981 - 1983,  yang diketuai oleh: R.Dahlan. Penyelesaian renovasi terjadi pada masa Dewan Keluarga Masjid periode 1983  yang dipimpin oleh: R.Haroen Danamihardja. Masjid Istiqamah Cihapit yang baru mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun warnanya. Mimbar hijau dari  tegel, mengalami renovasi yang lebih artistik, demikian pula tempat wudlu semakin sehat. Terutama fisik masjidnya yang semakin indah dengan warna coklat muda. Selain itu, juga lebih mudah dilihat dari jauh, karena dibangun pula menara yang berwarna merah hati.

Untuk ketiga kalinya Masjid Istiqamah Cihapit mengalami pembangunan fisik sejak ditinggalkan Ronodikromo. Pertama, pembangunan masjid yang masih berbentuk dindin dari bambu (bilik, bhs sunda) oleh menantu Ronodikromo sesudah tahun 1948. Kedua, pembangunan yang dilaksanakan oleh Panitia Perbaikan Masjid yang dipimpin oleh Ltn.Ud.Zaenal Abidin. Ketiga, renovasi terjadi pada masa pimpinan DKM R.Dahlan, dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 29 Desember 1985. Masjid Istiqamah Cihapit tetap meneruskan fungsi da'wahnya, berpartisipasi aktif dalam membangun spiritual. Di
bawah naungan Yayasan Istiqamah, Masjid Istiqamah  Cihapit sampai hari ini bekerjasama dengan Masjid Istiqamah Taman Citarum berda'wah di Bandung Utara.

Seperti halnya Masjid Istiqamah Taman Citarum, dalam pembinaan kegiatan da'wahnya, menyertakan para Sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Baiak dari kalangan sipil ataupun militer. Kesertaan kalangan cendikiawan muslim, lebih melengkapi informasi agama dari tinjauan disiplin ilmunya. Pengaruhnya besar sekali terhadap kehadiran generasi muda ke masjid.

Tidaklah kecil artinya kegiatan Pengajian Kaum Ibu yang lebih menyemarakkan masjid. Demikian pula pengajian rutin Al-Qur'an dan As-Sunnah yang dipimpin oleh Ustadz R.Soetrisna BA memberikan makna kemakmuran yang sangat berarti. Apalah arti dari sebuah masjid bila tanpa ada pengajian Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dari pengajian dan ceramah dapat dilihat umpan balik pengaruhnya terhadap penerimaan zakat fitrah, shadaqah. Demikian pula jumlah hewan qurban pada 'Idul Adha dari tahun ke tahun.

 
Next >
Advertisement
logo
 
waroeng-cepoek
 
Top! Top!